Sekilas Profil Pon. Pes "Ma'hadut Tholabah"

October 09, 2013


PONDOK PESANTREN “MA’HADUT THOLABAH”
Dsn. Kebondalem Ds. Kandangan Kec. Kandangan Kab. Kediri

Pondok pesantren Ma’hadut Tholabah berdiri pada tahun 1973. di dirikan oleh hadlrotus syaikh KH.Ahmad Toha Rhomlan, beliau  wafat pada tahun 2001 M.. Setelah beliau wafat Pondok pesantren Ma’hadut Tholabah diasuh oleh putra beliau yang bernama KH. Imam Baihaqi Thoha, putra ke tiga dari 10 bersaudara.
Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah didirikan di atas tanah seluas 60x 100 dengan dua bangunan dasar yaitu kamar untuk para santri yang berukuran 3x12 m dibagi jadi tiga 4x3m/kamar, dan sebuah mushola.  Sedangkan ruang belajar untuk santri  bertempat di mushola yang pada sa’at itu sangat sederhana, hanya tebuat dari bambu.
Sejak awal pesantren  ini tergolong  pesantren salafiyah, hal ini dapat terlihat dari keadaan  pesantren yang tetap mempertahankan Kitab-kitab Islam klasik  atau yang lebih sering di sebut dengan istilah kitab kuning sebagai inti pendidikan  pesantren.  dalam  bentuk  klasikal  pada  jenjang  madrasah
diniyah.
Pondok pesantren Ma’hadut Tholabah secara sepintas bisa dikatan bahwa eksistensinya cukup intens dengan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Terlihat sampai saat ini masih berjalan pengajian-pengajian yang dilakukan oleh santri bersama masyarakat sekitar seperti majlis ta’lim (malam Kamisan), sema’an Al Qur’an bin nadzor setiap sebulan sekali, dan yasinan setiap malam Jum’at.
1.      Setruktur pengurus pondok pesantren Ma’hadut Tholabah

Struktur organisasi merupakan suatu kerangka atau susunan yang menunjukkan hubungan antar komponen yang satu dengan yang lain, hingga jelas tugas, wewenang dan tanggung jawab masing masing dalam suatu kebulatan yang teratur.
Adapun bagian struktur organisasi Pondok Pesantren putra Ma’hadu Ttholabah  sebagaimana berikut pondok pesantren yang tetap mempertahankan Kitab-kitab Islam klasik atau yang lebih sering di sebut dengan istilah kitab kuning sebagai inti  pendidikan  pesantren.  dalam  bentuk  klasikal  pada  jenjang  madrasah diniyah.

3.      Visi misi pondok pesantren Ma’hadut Tholabah

a.      Visi
1.      Mencetak para santri yang memiliki wawasan IPTEK dan IMTAQ.
2.      Mengantar para santri untuk mampu membaca dan memahami kitab kuning, kreatif, dan mengantar santri berfaham ahlu sunah waljam’ah.

b.      Misi
1.      Melaksanakan proses belajar mengajar secara terprogram dan terarah
2.      Menyeimbankan dimensi keilmuan santri antara bidang umum maupun bidang agama terutama yang berbau pesantren
3.      Memotivasi santri untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimiliki serta mlanjutkan kejenjang yang lebih tinggi
4.      Mengembangkan kreatifitas santri baik dalam kegiatan intra maupun estrakurikuler.
5.      Memberikan teladan yang baik kepada para santri untuk berinteraksi sosial secara islami.
6.      Meningkatkan peran dan partisipasi seluruh komponen pendidikan
           
untuk mewujudkan cita-cita Madrasah

c.       Tujuan pondok pesantren Ma’hadut Tholabah

1. Memantapkan "Imtaq" kepada seluruh warga.
2)  Membiasakan peserta didik untuk selalu berlaku sopan santun.
3)  Meningkatkan nilai rata-rata UAM.
4)  Meningkatkan tingkat kedisiplinan siswa.3

4. Sarana Prasarana Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah

Untuk menunjang kelancaran sistem belajar mengajar di pondok atau madrasah maka di sediakan sarana prasarana seperti adanya gedung sekolah.kamar untuk para santri yang mukim.kantor madrasah ataupun pondok, gedung aula dan juga disediakan toko yang mnjual ATK dll.

5.    Santri Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah

Santri-santri yang ada di Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah mayoritas berasal dari Jawa Timur dan luar Jawa Timur. Sementara santri yang ada (Th. 2013/2014) berjumlah 80 orang santri putra dan 60 orang santri putri.
6.  Aktifitas Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah

1. Jama’ah, semua santri wajib melaksanakan sholat lima waktu dengan berjema’ah dan bertempatnya di  Musholla pesantren.
2. Mengaji  Al-Qur’an dan  Kitab, semua  santri diwajibkan mengikuti
     kegiatan sesuai dengan tingkatan masing-masing. Mengaji Al-Qur’an dilaksanakan setelah shalat shubuh untuk umum setelah ashar untuk tingkatan pemula. Pengajian Kutubus salaf dilaksanakan setelah melaksanakan sholat berjema’ah, dalam hal ini langsung di bacakan oleh pengasuh pondok atau ustadz yang di tunjuk oleh pengasuh. Semua santri di wajibkan untuk mengaji minimal 3 kitab dalam satu hari.
3. Khithobah (pidato) dilaksanakan setiap hari Rabu dan Kamis
Acara-acara yang terdapat dalam kegiatan khitobah meliputi: 
a.       Tahli
b.      Walimah  (khitan.a’qiqoh.ursy. tasmiah)
c.        Khutbah Jum’at dll. (kegiatan-kegiatan yang biasa atau diperlukan di dalam masyarakat umum)
4.  Mujahadah bersama setiap selesai acara khitobah malam Kamis
5.  Kursus Nahwu dan Shorof  menurut tingkatanya masing-masing
                 Pelajaran-pelajaran kursus meliputi :
a.    Untuk tingkatan Ibtida’iyah yaitu: Shorof dan jurumiah.
b.    Untuk tingkatan Tsanawiyah yaitu : Al Imrithi .Alfiah Ibnu Malik dan Qowa’idul I’rob
c.    Untuk tingkatan Aliyah yaitu : Balghoh, Mantiq dan Falaq
6. Istighosah bersama yang dilakukan setiap sebulan sekali di makam KH. Thoha Rhomlan dan Ibu Nyai H. Dewi Juwariyah
7. Muhadhoroh
8. Bahstul Masa’il yang dilaksanakan setiap satu bulan  sekali.
9. Diskusi ilmiah yang dilaksanakan pada satu minggu sekali yang diikuti
 
oleh setiap santri tingkatan tsanawi ‘aliah dan yang sudah tamat
10. Kerja bakti yang dilaksanakan satu minggu sekali, baik di lingkungan pesantren maupun di luar pondok pesantren.
11. Masuk sekolah formal bagi santri yang masih brsetatus siswa SMP.SMA dan yang sederajat
12. Madrasah diniyah, diikuti oleh semua santri kecuali yang sudah selesai,
dilaksanakan pada sore dan malam. sore untuk yang hanya mondok dan malam untuk yang ngerankep sekolah formal setelah jama’ah mahgrib.
13. Tahtimul qur’an setiap jum’at legi dalam sebulan sekali

B. Penyajian Data

1. Pelaksanaan Metode Pembelajaran Kutubus Salaf di Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah   Kebondalem Kandangan Kediri

a.       Materi Pelajaran Kitab Kuning

Materi yang di gunakan di pondok pesantren Ma’hadut Tholabah  ini, menyesuaikan tingkatan kemampuan santri, untuk tingkatan santri kelas SP di fokuskan pada pengenalan tentang peraktek
shalat dan pengenalan huruf arab, menghafal do`a sehari-hari dan menulis, sedangkan untuk ibtida’iyah  difokuskan pada materi sekitar  tentang pengenalan ketauhidan,  akhlaq  dan  tajwid. Pada  tingkatan  Tsanawiyah  santri ditekankan untuk menerapkan pelajaran yang sudah dipelajari di tingkat ibtida’iyah, mendalami ilmu Alat, serta penerapan ilmu alat. Untuk tingkat ‘aliyah santri dikhususkan untuk mengetahui ilmu Bayan, Manthiq dan Aqidah Islam seperti Ushul Fiqh, Qo’idah Fiqhiyah, Tafsir dan lain sebagainya.

b. Metode Pembelajaran Kitab Kuning
Sejak awal berdiri dan perkembangannya, metode pembelajaran kitab kuning yang dipakai adalah metode yang sudah lazim dipakai di pesantren salaf, yaitu:

1) Metode Bandongan
Metode yang digunakan di Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah Putra (dalam pembelajaran kitab) yang bersifat kelas besar ataupun kelas  kecil  adalah  metode  bandongan  yang  dipadukan  dengan metode lainnya. Biasanya metode bandongan ini digunakan oleh para pengasuh pondok yang dilaksanakan di dalem setiap setelah shalat maghrib. Metode ini biasanya lebih dominan dipakai pada
materi pelajaran tafsir, ilmu tafsir, fiqh, dan tasawuf. Dalam metode ini  kiai  membaca,  menerjemahkan,  dan  menjelaskan  isi  kitab, sedangkan santri menyimak, menulis ulang apa yang telah dijelaskan oleh kiainya. Penyampaiannya sering menggunakan bahasa Jawa,
terkadang pula memakai bahasa Indonesia.9

2) Metode Hafalan
Metode hafalan merupakan ciri khas yang sangat melekat pada sistem  pendidikan  tradisional,  termasuk  pesantren.  di   Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah, metode ini digunakan hanya dalam pembahasan kitab-kitab tertentu, seperti kitab sharaf, al-Qur’an, dan hadits. Sebab diakui atau tidak, khusus
untuk materi sharaf, jika santri tidak bisa menghafalkan wazan, maka dia akan kesulitan dalam membuat perumpamaan di kitab lain. Selain  hafalan  wazan  juga  hafalan  dalam  bentuk  sya’ir  atau
nadzom.12

3) Metode Tanya Jawab
Metode ini biasanya digunakan dalam waktu-waktu tertentu saja,   dan   memang   sudah   ditentukan   oleh   ustadz.   Sebelum pelaksanaannya  santri  diberitahu  terlebih  dahulu,  agar  mereka memiliki  persiapan.  Dalam  metode  ini,  santri  harus  menjawab pertanyaan   yang   diberikan   oleh   ustadz. Pertanyaan-pertanyan tersebut  biasanya  dalam  bentuk  tulisan,  lisan  ataupun  praktek. Metode ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman santri terhadap materi yang telah diterimanya. Metode ini digunakan pada seluruh materi kitab kuning.

            Jadi, dapat disimpulkan bahwa, metode-metode yang dipakai oleh para tenaga pengajar selalu        disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan kepada para santri.

Share this :

Previous
Next Post »
0 Komentar

Recent Post