cerpen PPMT (DAMPAR)

July 04, 2013

oleh : M. Aminuddin
Pada suatu malam tepatnya menjelang Maghrib di sebuah desa yang jauh dari keramaian kota semua warga berbondong-bondong menuju sebuah musholla yang berada di tengah-tengah desa tersebut. Ibu-ibu dengan seragam putihnya, bapak-bapak dengan  kopyah dan sarungnya, anak-anak dengan canda an keceriaanya. Muda-mudi dengan semangat dan jiwa mudanya, dan tidak ketinggalan seorang anak bersarung dan berkopyah agak kebesaran terlihat berlali dengan begitu semangatnya, dia membawa sebuah papan berukuran kecil yang didekapnya erat,. Dialah Imam, sikecil yang juga ikut meramaikan suasana pada waktu itu.
            Semua berangkat dari rumah masing-masing untuk berjamaah sholat Maghrib. Setelah sholat anak-anak dan remaja mengaji bersama yang diasuh oleh mbah Sholeh dan nyai Shofiyah istri beliau, juga beberapa ustadz lain seperti kang Shobirin dan kang Shomad. Ibu-ibu pun tidak ketinggalan, mereka juga ikut bertadarus. Sedangkan bapak-bapak sebagaian membaca wirid-wirid dan sebagian lagi juga membaca kalam Allah yang agung. Semua berlangsung dengan khidmad. Angin berhembus pelan, suasana begitu damai. 1997 M.
Waktu terus berlalu
Disuatu malam.....
“kamu mau kemana?”. Tanya sebuah meja yang berukuran agak besar penasaran.
“Aku akan pergi, aku akan mencari tempat lain, dimana aku akan digunakan kembali”. Jawab sebuah meja yang berukuran lebih kecil.
“Tidak !, disinilah tempatmu, sadarlah kamu dibuat untuk berada disini sampai kapanpun”. Si besar memberi nasehat.
“Ya aku tahu, tapi kamu lihatlah kenyataanya, kita dicampakan, kita dilupakan, tidak ada lagi yang mau mengaji, untuk apa kita berada disini ?”. jawab si kecil dengan nada meninggi. Si besar terdiam mendengar jawaban temanya itu yang sepertinya tidak dapat diajak kompromi lagi, dia tertunduk lesu.
“Aku pergi dulu”. Kata Si kecil sambil melangkahkan kakinya keluar. Si besar hanya menatap sedih ketika Si kecil mulai membuka pintu musholla. Namun sebelum Si kecil menginjakkan kakinya ke tanah, suara batuk dari kakek Bambu menahannya hingga Si kecil berhenti.
“Jadi kamu benar-benar mau pergi?”. Tanya kekek Bambu yang sudah puluhan tahun tergantung di serambi musholla.
“Benar kek”. Maafkan aku, jawab Si kecil sambil memandang kakek Bambu yang terlihat agak rapuh, bagian kirinya hampir habis karena selalu dipukul lima kali sehari ketika waktu sholat tiba, meskipun begitu ia tidak pernah mengeluh, ia tetap bersuara ketika seseorang dengan keras memukulnya, memang itulah tugasnya.
“kemana kamu akan pergi?”. Lanjut kakek bambu.
“entah lah kek”. Jawab Si kecil setelah beberapa saat terdiam. “semua telah melupakan kami, mereka tidak mau lagi berbondong-bondong ke musholla, berangkat bersama, sholat bersama dan mengaji bersama, semua telah berubah, termasuk imam”. Lanjut Si kecil mengeluh seraya mengingat seorang anak yang dulu selalu menggunakanya untuk meletakkan Al Qur’an setelah sholat Maghrib.
“Tidak !”, tiba-tiba Si besar menyela, “imam tidak pernah melupakan kita, dia hanya pergi untuk sementara, dia pergi ke pesantren untuk menuntut ilmu, dan suatu saat pasti akan kembali lagi”. Terang Si besar yang dari tadi berada di dalam.
“Benar apa yang dikatakan Si besar, bersabarlah !” tambah Si kakek bambu.
“Bukankah di dirimu terukir nama Imam ?”. Si besar mengingatkan. Perlahan Si kecil meraba bagian atas tubuhnya, ya di situlah terukir nama Imam dengan tulisan Arab. Dia menerawang jauh, teringat olehnya peristiwa 12 tahun silam.
Setelah sholat Jum’at, di belakang rumah terdengar suara gergaji “egreg egreg egreg”, seorang kakek sedang membuat sesuatu, dialah mbah Sholeh dengan sebuah gergaji di tanganya. Sebuah papan kecil berukuran 50x20 cm berada di sampingnya, dan 4 buah balok kecil berukuran panjang kira-kira 15 cm. Satu persatu disusunnya bagian-bagian tersebut, ke empat balok diletakkan dan dipaku disetiap pojok papan, lau ditambahkan dua balok lagi yang disusun membujur sebagai penguat, lalu dia berhenti sejenak diambilnya nafas panjang dan dihembuskan kembali.
“Alhamdulillah akhirnya selesai juga”. Kata Mbah Sholeh puas. Tiba-tiba ada seorang anak kecil berlari menghampirinya, dengan membawa mobil-mobilan yang terbuat dari hati pohon pisang atau ares yang ditarik dengan seutas tali.
“Mbah membuat apa?”. Tanyanya penasaran dengan wajah yang lucu.
“Hehe, Mbah lagi membuat dampar untukmu”. Terang Mbah Sholeh kepada anak kecil tadi yang tidak lain adalah cucu kesayanganya.
“Asik.... aku punya meja baru”. Sahut Si cucu sambil loncat-loncat. “Ini sudah jadi kan Mbah?, aku bawa ya?”. Pintanya.
eh... tunggu dulu masih kurang”. Jawab Mbah Sholeh, “sini berikan ke Mbah, akan Mbah tuliskan sesuatu di atasnya”. Lanjut Mbah Sholeh. Dengan bersemangat segera diberikan dampar yang dari tadi di dekapnya kepada Mbah Sholeh.
“Mbah mau menulis apa tho?”. tanya Si cucu, kali ini dengan wajah yang serius.
Mbah Sholeh hanya diam, diambilnya sebuah alat dan dia mulai sibuk mengukir, Si cucu hanya melihat dengan sabar apa yang dibuat oleh Mbahnya itu. Setelah kurang lebih 12 menit akhirnya jadi juga.
“Nah.. ini sudah jadi”. Kata Mbah Sholeh kepada cucu yang berumur 9 tahun itu.
“ini bacanya apa Mbah, tulisanya kok sama yang ada di buku ngajiku”. Tanya Si cucu tidak faham.
“Itu namanya tulisan Arab, dan bacanya adalah IMAM, namamu”. Terang Mbah Sholeh sambil tersenyum bangga.
“hehe namaku ya?, bagus sekali Mbah, tapi kok nggak ada harokatnya?. Tanya Imam polos.
“Eh eh eh... suatu saat kamu akan dapat membaca tulisan seperti itu, bhkan memeknainya”. Jawab Mbah Sholeh.
“Benarkah itu Mbah, bagaimana caranya?”. Tanya Imam.
“Iya dengan mengaji dan belajar sungguh-sungguh”. Jawab Mbah Sholeh memantapkan. “ya sudah kamu mandi sana, dan nanti Maghrib dampar ini boleh kamu bawa ngaji ke musholla”. Perintah Mbah Sholeh.
Dengan bersemangat Imam berlari pulang dengan menarik mobil-mobilanya yang sebenarnya sudah tidak berbentuk mobil lagi, dia berteriak “Hore.... aku punya dampar baru, teman-teman aku punya dampar baru”.
            Tiba-tiba Si dampar kecil sadar dari lamunannya. “iya aku tahu itu, tapi itu sudah lama sekali, sekali lagi aku katakan semua telah berubah !!”. kata Si kecil sambil berlari meninggalkan musholla dan teman-temanya, dia pergi mencari tempat yang dia bayangkan.
Si kakek Bambu dan Si besar hanya diam tidak berkata, mereka hanya bisa memandang kepergian Si kecil, yang lama kelamaan hilang di kegelapan malam.
Si kecil pergi dari satu tempat ke tempat lain, dari satu musholla ke musholla yang lain, dari satu madrasah ke madrasah lain, dan dari satu masjid ke masjid yang lain. Tapi apa yang dia dapatkan, semua bangku-bangku yang ada berkata sama “apa kamu tidak melihat badan kami yang dipenuhi dengan debu?, itu artinya sudah lama sekali kami tidak disentuh”. Kata mereka.
“hai kecil, apa kamu tidak tahu bahwa aku sudah lama sekali tergeletak di pojok musholla ini?, tak seorang pun menghiraukanku”. Kata yang lain.
Si kecil semakin sedih mendengarkan perkataan mereka. “apa yang terjadi dengan anak-anak masa sekarang, kenapa mereka tidak mau mengaji, kenapa mereka melupakanya?, mereka lebih suka bermain-main, kemajuan zaman telah merubah mereka. Ya Allah apakah artinya ini?, dan dimanakah orang tua mereka?, apakah orang tua sekarang sudah kalah dengan anak mereka sendiri, anak yang menjadi tanggung jawab mereka, atau mungkinkah orang tua sekarang menganggap bahwa sholat berjamaah, mengaji bersama adalah hal yang tidak terlalu penting, ya Allah apa artinya ini?”. Rentetan pertanyaan memenuhi hati Si kecil, dia semakin sedih, sedih, dan sedih. Dia menangis tersedu-sedu, dengan hati yang luka, dengan langkah yang lunglai dia berjalan entah kemana, dan kemana lagi dia akan mencari.
            Dalam keadaan demikian dia dikejutkan oleh dua orang yang  mengendarai sepeda ontel yang kebetulan melewati jalan yang dilaluinya. Dia segera bersembunyi, “siapa kedua orang itu?”. Gumam Si kecil, “kenapa mereka menuju kesana?”. Tanya Si kecil dalam hati setelah melihat kedua orang tadi meluncur ke sebuah desa  yang tidak lain adalah desanya Mbah Sholeh. Yang juga termasuk tempat dimana Si kecil berasal.
Segera Si kecil berlari mengikuti mereka, setelah sekian lama mengikuti, ternyata kedua orang tadi menuju musholla, diintipnya kedua orang tadi dari balik pohon pisang, dia terus mengawasi. Dia melihat keduanya memarkirkan sepeda di depan musholla, lalu berjalan kesamping untuk mengambil air wudlu, setelah berdo’a mereka masuk ke musholla, setelah lampu dinyalakan, maka terlihatlah wajah keduanya yang sebelumnya tidak begitu jelas. Si kecil terkejud melihatnya, dia tercengang. “ya Allah apakah aku tidak salah melihat, bukankah itu imam?, tidak mungkin”. Dia segera berlali mendekat ke musholla, melalui jendela berlubang dilihatnya kedua orang itu, “masya Allah, tidak salah lagi itu Imam, subhanallah dia bertambah besar, dia terlihat semakin dewasa”. gumam Si kecil “dan yang satu lagi pasti temanya dari pondok”. Lanjut Si kecil menebak.
Si kecil tidak dapat menahan rasa bahagianya, orang yang ditunggu selama bertahun-tahun telah datang, ingin sekali dia memanggilnya, tapi itu mustahil.
Imam mencari sesuatu, dia menuju pojok musholla tapi apa yang dia cari tidak terlihat, yang terlihat hanyalah sebuah bangku besar yang ditata miring dan  disandarkan pada dinding, dia terus mencari, sementara itu temanya melakukan sholat entah sholat apa. Melihat pemandangan seperti itu Si kecil segera berlari menuju utara musholla dan dia segera masuk lewat sebuah pintu.
“apa dia mencariku?”, tanyanya dalam hati, dia segera membaringkan diri dan diam dan tidak bergerak.
Terdengar suara langkah kaki yang menuju ruang sebelah utara tersebut, yang biasanya digunakan ibu-ibu untuk sholat berjama’ah.
“O... ternyata disini”, kata imam sambil tersenyum manis, dia segera mengambil sebuah bangku kecil yang tidak asing lagi baginya, sebuah bangku yang dulu selalu menemaninya mengaji, sebuah bangku kecil yang sengaja dibuat khusus untuknya beberapa tahun lalu ketika dia masih duduk di bangku kelas 3 SD, dia meraba dan mencari sesuatu dari bagian atas bangku tersebut yang ternyata masih seperti yang dulu, sebuah nama yang ditorehkan oleh kakeknya “Mbah Sholeh”, sekali lagi dia tersenyum.
“kamu sedang ngapain mam?”. Tiba-tiba suara kang Rohim yang tak lain adalah temanya tadi mengagetkan dan membuyarkan lamunanya.
“Eh... gk kog, emm.. ini aku mencari bangku ini”. Jawab Imam sambil memperlihatkan bangku yang dibawanya, “bangku ini dibuat oleh al marhum kakek, katanya agar aku semangat mengaji”. Lanjut Imam sambil meletakkan bangku di pangkuanya.
“sepertinya kakekmu menginginkan agar kamu meneruskan perjuanganya”. Kata kang Rohim sambil ikut duduk.
“iya, dan untuk itulah aku dipondokkan, tapi seperti apa yang telah aku ceritakan kepadamu, banyak terjadi perubahan di desa ini”. Kata Imam sambil menghembuskan nafas panjang.
“iya mam, di desaku pun juga terjadi hal yang sama, jarang sekali ada anak yang mau mengaji apa lagi mondok”. Kata pria asal Rembang ini, yang satu kelas dengan Imam.
“Menurutmu apa penyebabnya ya mam?”. Tanya kang Rohim, Imm terdiam beberapa saat.
“emmm.. menurutku yang paling pokok ada dua penyebabnya, pertama kemajuan zaman, teknologi berkembang pesat, ia menawarkan berbagai kemudahan dan kenikmatan, sehingga apa bila tidak diimbangi dengan kesadaran yang cukup si pengguna akan terlena dan cenderung menyalah gunakannya, apa lagi anak remaja yang kadar emosinya masih labil. Kedua kurangnya perhatian dan kepedulian orang tua terhadap pergaulan dan pendidikan anaknya khususnya pendidikan agama. Ya.. itulah, menurutku keduanya harus seimbang, bukankah pengetahuan tanpa agama adalah buta, dan agama tanpa pengetahuan adalah pincang?”. Tanya Imam mengakhiri penjelasanya.
“yeah, ku rasa juga begitu mam”. Jawab kang Rohim yang sepertinya setuju dengan pendapat Imam. “tapi kamu tadi menjelaskan seolah-olah kamu ini anak terpelajar saja mam, kamu kan SD saja gk lulus?”. Gurau kang Rohim.
“hehe kowe iyo to...?”. balas Imam ketus, mereka pun tertawa bersama.
Keduanya ngobrol sampai larut malam, hal ini biasa mereka lakukan di pondok baik ketika membahas pelajaran ataupun permasalahan yang lain.
“Sepertinya sudah terlalu malam kang khim”. Panggilan akrab untuk kang Rohim. “ayo kita pulang !”. ajak Imam
“ayo aku juga sudah mulai ngantuk”. Jawab kang Rohim.
Sebelum pulang ke pondok Imam membersihkan dampar kecil kesayangannya, diusapnya dengan lembut, lalu diletakkan kembali di tempat semula, di pojok musholla.
”Aku akan kembali, aku akan buat musholla ini ramai seperti dulu lagi, Insya Allah, Insya Allah, bersabarlah dan tunggu aku”. Kata Imam seolah-olah berkata kepada dampar kecil kesayangannya. Setelah itu dia mematikan lampu dan menutup pintu setelah itu dia meraih sepeda lalu  meninggalkan musholla seisinya dan kembali lagi ke pondok yang jaraknya 15 Km dari desanya, terbayar sudah kerinduanya.
           

“emmm.. menurutku yang paling pokok ada dua penyebabnya, pertama kemajuan zaman, teknologi berkembang pesat, ia menawarkan berbagai kemudahan dan kenikmatan, sehingga apa bila tidak diimbangi dengan kesadaran yang cukup si pengguna akan terlena dan cenderung menyalah gunakannya, apa lagi anak remaja yang kadar emosinya masih labil. Kedua kurangnya perhatian dan kepedulian orang tua terhadap pergaulan dan pendidikan anaknya khususnya pendidikan agama. Ya.. itulah, menurutku keduanya harus seimbang, bukankah pengetahuan tanpa agama adalah buta, dan agama tanpa pengetahuan adalah pincang?”.

Musholla mbah Sholeh begitu gelap dan sepi, Sikecil yang dari tadi diam tiba-tiba menangis, tapi kali ini adalah tangisan bahagia.
“Dia menyentuhku, dia membersihkanku, dia benar-benar mendekapku”, kata Sikecil dengan mata berkaca-kaca, dia berlari menuju musholla untuk melihat Imam, ingin sekali dia berteriek memanggilnya, tapi sekali lagi itu tidaklah mungkin.
“dia akan kembali”. Kata Si besar yang dari tadi juga terdiam.
“Eh ya, benar apa yang kamukatakan, maafkan aku”. Pinta Si kecil, “sekarang aku akan menunggu sampai dia kembali, aku yakin dialah anak yang akan membawa perubahan, dialah yang akan mengembalikan semua yabg telah hilang, dialah harapan !”. Yakin  Si kecil.
“Sekarang kembalilah ke tempat kalian, sebentar lagi shubuh”. Kata Si kakek bambu tiba-tiba menyela pembicaraan mereka, sekaligus mengakhiri cerita malam itu.
Si kecil dan Si besar kembali ke tempat mereka di pojok musholla, sampai waktu yang dijanjikan tiba  mereka akan tetap di sana.
Cepatlah kembali....!!


                                Aula : Sabtu, 12-01-13
                                PPMT

Share this :

Previous
Next Post »
0 Komentar

Recent Post